Apa sih yang perlu dipersiapkan untuk wedding preparation ?
Menjelang pernikahanku sendiri yang kurang dari 1 bulan, aku ingin berbagi pengalaman selama 1 tahun belakangan ini buat temen-temen yang mungkin sekarang sedang dalam tahap mempersiapkan, merencanakan dan menjalani persiapan wedding teman-teman sendiri. Mungkin topik ini terlalu besar kalau aku tampung dalam 1 posting, jd sengaja aku membagi dalam bbrp bagian sehingga teman-teman bisa lebih mudah membacanya.
Jadi, pertama-tama apa yang perlu dipersiapkan ? budget ? perencanaan? WO? Menurut saya, diatas semuanya yg lebih berhubungan dengan hal-hal pelaksanaan secara teknikal, mungkin yg paling penting adalah kesiapan mental dan rohani. Koq mental & rohani sih? Apa hubungannya yah ? Well, mungkin tidak penting bagi sebagian orang. Tapi buat aku, mental dan rohani diatas segalanya dalam mempersiapkan sebuah pernikahan. Saya tumbuh sebagai orang Kristen, tetapi berbagi pengalaman ini bukan saja hanya untuk sesama orang Kristen, tetapi saya yakin untuk semua orang seharusnya mempunyai konsep yang sama.
Pertama-tama, siapkah mental anda untuk memulai hidup berkeluarga ? Gimana caranya tahu kalo secara mental siap atau tidak yah ? Mungkin setiap orang mempunyai cara pandang dan pendapat yang berbeda-beda, tapi aku punya cara yang sebenernya gampang. Coba aja bayangin diri kita sendiri dengan pasangan hidup ketika sudah menikah. Bagaimana peran kita sebagai suami/istri dalam kehidupan rumah tangga; bagaimana tanggung jawab sebagai seorang suami sang pencari nafkah dan kepala rumah tangga; bagaimana peran dan kesiapan sebagai bapak/ibu dari anak-anak yang nantinya akan dititipkan Tuhan kepada kita; bagaimana tanggung jawab seorang istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga selagi suami bekerja; bagaimana seorang ibu bisa menjaga dan mendidik anak-anak kita kelak; dan lain-lain. Gampang…imagine aja bagaimana kehidupan kalian nantinya. Nah dari sana bisa menilai diri sendiri, apakah terbesit dalam imaginasi kita bagaimana kita mempersiapkan diri menjalani kehidupan seperti itu ? Apakah gaya hidup dan prinsip hidup yang nantinya akan kita tanamkan dalam keluarga kita itu cukup baik ? Jika iya, bagus! Jika tidak; tanda tanya buat diri sendiri kan ? Perlu diingat bahwa pernikahan bukan cuman 1 hari ketika wedding dilaksanakan atau honeymoon 1-2 minggu ke luar negeri. Tetapi ketika kita berkata ‘Iya’ dihadapan Tuhan; ketika itu lah pernikahan kita mulai dijalankan dan sepanjang hidup kita nantinya.
Kedua, persiapan rohani. Konsep berkeluarga setiap orang mungkin berbeda, namun saya sendiri berpegangan pada prinsip yang cukup simple. Kita dipersatukan oleh Tuhan untuk membentuk sebuah keluarga yang harmonis. Jadi dalam sebuah keluarga, bukan hanya ada 2 orang aja nih yang berperan. Tapi diatas semua itu ada peran Tuhan yang selalu menjaga keharmonisan sebuah keluarga. Tuhan yang memberi berkat kepada semua keluarga; Tuhan juga yang memberikan buah hati berupa anak-anak yang Dia titipkan kepada kita sebagai ayah dan ibu. Jadi, hubungan dan kesiapan rohani pastilah penting juga dan secara prinsip pribadi saya; yang paling utama! Tuhan adalah pribadi yang paling mengenal diri kita, dibanding siapapun di dunia ini; bahkan diri kita sendiri. Kalau hubungan kita sama Tuhan aja nggak bener, gimana kita bisa menjalin hubungan dengan pasangan dengan bener juga!
So, there you go friends! Kesiapan rohani dan mental; 2 hal yang terutama yang harus kita persiapan sebelum kita melangkah lebih jauh dalam mempersiapkan pernikahan. Ajak pasangan berdiskusi tentang hal ini; ajak pasangan berimaginasi bagaimana kehidupan kalian ketika nanti sudah berkeluarga; anak-anak dan masa depan; dan bagaimana peran Tuhan ditengah keluarga kalian nantinya. Take a moment to discuss with your partner and you will know if you both ready of not. Believe me or not, after your discussion you can feel that you’re even closer to your partner than ever before.
Aku masih ingat ucapan seorang penulis buku rohani berjudul ‘When God Writes Our Love Story’ - by Eric and Leslie Ludy. Di dalamnya sang penulis menceritakan dirinya yang dianggap terlalu rohani oleh teman-temannya bahkan dalam urusan mencari pasangan hidup; ia ditantang oleh teman-temannya jika dia dalam kondisi dihadapan Tuhan dan di depannya ada 10 orang wanita yang menurut Tuhan merupakan pasangan yang ideal baginya baik secara karakter dan fisik; dan Tuhan memberinya hak untuk memilih sendiri mana wanita pilihannya. Jawaban dari sang penulis di halaman berikutnya membuat diriku berpikir terlebih dahulu jika aku dihadapkan pada kondisi yang sama, kira-kira mana diantara 10 wanita yang berbeda karakter ini yang akan aku pilih. Namun jawaban sang penulis di halaman berikutnya merupakan moment yang sangat mengubah cara pandangku tentang pasangan hidup hingga saat ini. Sang penulis menjawab tanpa ragu; ‘Tuhan, Engkau yang pilih buat aku mana yang paling ideal diantara 10 wanita ini. Karena Engkau yang paling tahu mana yang terbaik buatku’. Kesiapan rohani, kedekatan dengan Tuhan; merupakan salah satu kunci dalam membentuk sebuah keluarga yang harmonis karena landasan dari keluarga ini kuat.